www.tribunsatu.com
Galeri Foto - Advertorial - Pariwara - Indeks Berita
 
Berdamailah!, Tanggalkan Keinginan Balas Dendam
Senin, 17-02-2020 - 13:35:40 WIB
TERKAIT:
 
  • Berdamailah!, Tanggalkan Keinginan Balas Dendam
  •  

    VATICAN, Tribunsatu.com Pesan Paus untuk Hari Perdamaian Dunia: ‘Setiap perang adalah bentuk pembunuhan saudara’
    Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Perdamaian Dunia ke-53 menggambarkan perdamaian sebagai perjalanan harapan yang harus dilakukan dalam semangat dialog, rekonsiliasi, dan konversi ekologis.


    Hari Perdamaian Dunia ke-53 akan jatuh pada 1 Januari 2020.
    Pesan Paus Fransiskus, yang diterbitkan pada tanggal 12 Desember, berjudul “Perdamaian sebagai perjalanan harapan: dialog, rekonsiliasi, dan konversi ekologis”.


    Paus memulai dengan mengatakan bahwa harapan menempatkan kita di jalan menuju perdamaian, sementara “ketidakpercayaan dan ketakutan melemahkan hubungan dan meningkatkan risiko kekerasan.” Paus mendesak kita semua untuk menjadi pengrajin perdamaian, terbuka bagi dialog dalam semangat rekonsiliasi, pada suatu perjalanan pertobatan ekologis yang mengarah pada “cara baru dalam memandang kehidupan.”


    Harapan membuat kita terus maju
    Menjelaskan perdamaian sebagai “sebuah nilai yang besar dan berharga, obyek harapan kita dan aspirasi seluruh keluarga manusia”, Paus Fransiskus mengatakan itu adalah tujuan yang ingin diusahakan meskipun ada rintangan yang tampaknya tidak dapat diatasi.


    Paus mengenang bekas luka perang dan konflik yang ditimbulkan dalam “ingatan dan daging” manusia, dan mengatakan mereka “memengaruhi terutama pada orang miskin dan rentan,” menyebabkan penghinaan dan pengucilan, kesedihan dan ketidakadilan.


    Persaudaraan, sebuah panggilan bawaan kemanusiaan
    “Seluruh negara merasa sulit untuk melepaskan diri dari rantai eksploitasi dan korupsi yang memicu kebencian dan kekerasan. Bahkan hari ini, martabat, integritas fisik, kebebasan, termasuk kebebasan beragama, solidaritas komunal, dan harapan di masa depan ditolak oleh banyak laki-laki dan perempuan, tua dan muda.”


    “Setiap perang, adalah bentuk pembunuhan saudara yang menghancurkan panggilan bawaan keluarga manusia untuk persaudaraan.”


    Perdamaian dan stabilitas bertentangan dengan rasa takut terhadap yang lain
    Perang, “sering dimulai dengan ketidakmampuan untuk menerima keragaman orang lain, yang kemudian menumbuhkan sikap kebesaran dan dominasi yang lahir dari keegoisan dan kebanggaan, kebencian dan mengolok, mengecualikan dan bahkan menghancurkan yang lain”.


    Merujuk pada kunjungannya baru-baru ini ke Jepang dan seruannya untuk penghapusan senjata nuklir, Paus Fransiskus menekankan bahwa “perdamaian dan stabilitas internasional bertentangan dengan upaya untuk membangun di atas rasa takut akan saling menghancurkan maupun ancaman penghancuran total.”


    Perdamaian dapat dicapai, hanya berdasarkan etika global solidaritas dan kerja sama.


    Persaudaraan menghasilkan dialog dan kepercayaan
    Sebagian dari Pesan itu didedikasikan untuk masalah ketidakpercayaan dan ketakutan yang, “melemahkan hubungan dan meningkatkan risiko kekerasan, yang menciptakan lingkaran setan yang tidak pernah bisa mengarah pada hubungan damai.”


    “Bahkan pencegahan nuklir hanya dapat menghasilkan ilusi keamanan.”


    Satu-satunya cara untuk memecah dinamika ketidakpercayaan saat ini, adalah dengan mengejar “persaudaraan sejati berdasarkan pada asal usul kita bersama sebagai ciptaan Tuhan dan diwujudkan dalam dialog dan saling percaya.”


    Keinginan untuk perdamaian, “terletak jauh di lubuk hati manusia, dan kita tidak boleh pasrah mencari sesuatu yang kurang dari hal ini.”


    Ingatan masa lalu untuk masa depan yang damai
    Paus Fransiskus menggambarkan ingatan sebagai cakrawala harapan: “Sering kali, dalam kegelapan perang dan konflik, ingatan bahkan merupakan sebuah gerakan solidaritas kecil yang diterima dapat mengarah pada keputusan berani dan bahkan heroik. Hal itu dapat melepaskan energi baru dan menyalakan harapan baru pada individu dan komunitas.”


    Mengingat pertemuannya dengan Hibakusha, para penyintas bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, yang masih menjadi saksi kengerian masa lalu untuk memastikan dan membangun persaudaraan dan masa depan yang lebih adil, Paus menggambarkan ingatan sebagai “buah dari pengalaman, untuk melayani sebagai dasar dan inspirasi untuk keputusan saat ini dan masa depan untuk mempromosikan perdamaian.”


    Tantangan mengatasi kepentingan pribadi dan politik
    “Berangkat pada perjalanan damai, tantangan membuatnya menjadi semakin kompleks karena banyak kepentingan yang dipertaruhkan dalam hubungan antara orang-orang, komunitas dan bangsa serta saling bertentangan”.


    Karena itu Paus menyerukan “moral dari hati nurani rakyat dan pada kehendak pribadi serta politik,” sebab “perdamaian muncul dari lubuk hati manusia dan kemauan politik harus selalu dibarui, sehingga cara-cara baru dapat ditemukan untuk merekonsiliasi dan menyatukan individu dan komunitas.”


    Pengrajin perdamaian
    Pada bagian akhir dari Pesan, Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa perdamaian adalah sesuatu yang harus dibangun terus-menerus, dan bahwa hal tersebut adalah perjalanan yang harus dilakukan bersama dalam mengejar kebaikan bersama secara terus-menerus.


    “Dunia tidak membutuhkan kata-kata kosong melainkan saksi meyakinkan, pembawa damai yang terbuka untuk dialog yang menolak pengucilan atau manipulasi.”


    Bahkan, “kita tidak bisa benar-benar mencapai perdamaian tanpa dialog yang meyakinkan antara laki-laki dan perempuan yang mencari kebenaran di luar ideologi dan pendapat yang berbeda,” sampai pada titik “melihat seorang musuh sebagai wajah dari seorang saudara atau saudari kita.”


    Proses perdamaian, membutuhkan kesabaran, komitmen dan kreativitas. Itu harus dibangun, langkah demi langkah, membuka jalan menuju harapan bersama yang lebih kuat daripada keinginan untuk membalas dendam.


    Saling mengakui sebagai saudara dan saudari
    Paus Fransiskus melanjutkan dengan mendesak semua laki-laki dan perempuan dengan niat baik untuk “meninggalkan keinginan untuk mendominasi orang lain” dan mendesak kita untuk belajar saling memandang “sebagai pribadi, putra dan putri Allah, saudara dan saudari”. Hanya dengan memilih jalan penghormatan, “kita dapat mematahkan sulur pembalasan dan memulai perjalanan harapan”.


    Belajar “hidup dalam pengampunan, kita tumbuh dalam kapasitas kita untuk menjadi laki-laki dan perempuan yang damai,” Paus mencatat bahwa perdamaian sejati hanya dapat diperoleh melalui sistem ekonomi yang lebih adil, “yang ditandai dengan kesabaran dan persekutuan”.


    Konversi ekologis: cara baru dalam memandang kehidupan
    Mengenang Surat Ensikliknya, “Laudato sì”, Paus menyerukan konversi ekologis sebagai respons yang konstruktif dan adil terhadap “konsekuensi dari permusuhan kita terhadap orang lain, kurangnya rasa hormat kita terhadap rumah bersama kita atau eksploitasi sumber daya alam kita yang kejam – hanya terlihat sebagai sumber keuntungan langsung, terlepas dari komunitas lokal, kebaikan bersama dan alam itu sendiri.”


    Paus mengatakan perjalanan yang dilakukan oleh Sinode baru-baru ini di Amazon menggerakkan kita untuk berkomitmen pada pembaruan “hubungan damai antara masyarakat dan bumi, antara sekarang dan masa lalu, antara pengalaman dan harapan”.
    Paus menggambarkannya sebagai “sebuah perjalanan yang dibangun dari mendengarkan dan merenungkan dunia yang telah Tuhan berikan kepada kita sebagai hadiah untuk membuat rumah kita bersama.”


    “Pertobatan ekologis yang menjadi daya tarik kita akan menuntun kita ke cara baru dalam memandang kehidupan, karena kita mempertimbangkan kemurahan hati Pencipta yang telah memberi kita bumi dan memanggil kita untuk membagikannya dalam sukacita dan kesederhanaan.” Paus mencatat bahwa bagi orang-orang Kristiani, hal tersebut mensyaratkan bahwa “dampak dari perjumpaan mereka dengan Yesus Kristus menjadi jelas dalam hubungan mereka dengan dunia di sekitar mereka.”


    Kita mendapatkan semua yang kita harapkan
    Dalam bab terakhir dari Pesannya, Paus mengatakan, “Perjalanan rekonsiliasi membutuhkan kesabaran dan kepercayaan. Perdamaian tidak akan diperoleh kecuali jika diharapkan.”


    Paus menekankan bahwa perlu untuk percaya akan kemungkinan perdamaian, yang diilhami oleh kasih Allah bagi kita masing-masing, yaitu “membebaskan, tanpa batas, kesabaran, dan tak kenal lelah”.


    Undangan Paus adalah untuk mengatasi ketakutan yang merupakan akar dari konflik, untuk mempromosikan budaya perjumpaan, untuk memberikan kehidupan kepada persaudaraan universal, ketika kita menapaki jalan Kristiani yang didukung oleh sakramen Rekonsiliasi, yang “mengharuskan kita untuk mengesampingkan setiap tindakan kekerasan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, apakah terhadap sesama kita atau terhadap ciptaan Tuhan”.


    “Kasih karunia Allah Bapa kita,” Paus Fransiskus menyimpulkan, “dianugerahkan sebagai cinta tanpa syarat. Setelah menerima pengampunan-Nya di dalam Kristus, kita dapat berangkat untuk menawarkan perdamaian itu kepada laki-laki dan perempuan di zaman kita. Hari demi hari, Roh Kudus mendorong kita dalam cara berpikir dan berbicara yang dapat menjadikan kita pengrajin keadilan dan kedamaian”.

    Oleh: Linda Bordoni
    Sumber: Vatican News




     
    Berita Lainnya :
  • Berdamailah!, Tanggalkan Keinginan Balas Dendam
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
     
    Tokoh - Opini - Galeri - Advertorial Indeks Berita
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2016-2020 PT. HESTI TRIBUNSATU PERS, All Rights Reserved