www.tribunsatu.com
Galeri Foto - Advertorial - Pariwara - Indeks Berita
 
Febita Agustina Ndruru : Pelayaran Indonesia di Tengah Pasang Surut Ekonomi Dunia
Selasa, 12-03-2019 - 20:15:41 WIB
TERKAIT:
 
  • Febita Agustina Ndruru : Pelayaran Indonesia di Tengah Pasang Surut Ekonomi Dunia
  •  

    By: Febita Agustina Ndruru



    Pekanbaru, Tribunsatu.com Tak bisa dipungkiri arus ketidakpastian ekonomi global kian deras saat ini. Isu strategis yang menjadi perhatian dunia saat ini meliputi trade war Amerika serikat VS China serta keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

    Sedikit banyaknya gejolak perekonomian global juga akan berdampak pada Indonesia.
    Trade War Amerika Serikat VS China

    Belakangan dua mitra perdagangan Indonesia tengah menjalankan trade war (perang dagang) dengan menaikkan tarif impor negara satu sama lain yaitu Amerika Serikat (AS) dan China.

    Saling serang tarif bea masuk impor ini berawal pada 22 Maret 2018 saat Donald Trump menandatangani memorandum untuk mengenakan tarif sebesar US$ 50 miliar untuk barang-barang yang berasal dari China.

    Trump berdalih bahwa ada ketimpangan perdagangan dan pencurian kekayaan intelektual yang dipraktikkan oleh China. Pada 2 April 2018, China merespon kebijakan yang diambil AS dengan mengenakan tarif terhadap 128 produk dari AS sebesar 25% dan 15%.

    Perang terus bergulir dengan sengit, saling serang tarif tak bisa dihindari. Hingga pada awal bulan Desember 2018, kedua belah pihak menyetujui gencatan senjata selama 90 hari dan berakhir pada 1 Maret 2019.

    Dikutip dari Forbes, Minggu (10/03/2019), perang dagang China kembali berhenti. Tarif baru, yang seharusnya berlipat ganda pada 2 Maret, adalah bagian dari perjanjian gencata senjata baru antara Beijing dan Washington. Tidak ada yang tahu sampai kapan gencatan senjata akan berlangsung.

    “Meningkatnya ketidakpastian perdagangan akan berdampak lebih
    jauh terhadap investasi juga rantai suplai global,” ujar Chief Economist IMF Gita Gopinath dikutip dari Kompas.com, Selasa (22/01/2019).
    Lantas bagaimana dampak trade war terhadap perekonomian Indonesia? Seperti yang kita ketahui bahwa AS dan China merupakan partner dagang utama bagi Indonesia.

    Terutama China yang notabene negara tujuan ekspor komoditas Indonesia. Berdasarkan prediksi IMF mengenai pertumbuhan ekonomi China, diprediksi akan melambat menjadi 6,2 persen tahun ini, dari 6,6 persen tahun lalu.

    Sehingga ketika ekonomi China melemah maka akan berpengaruh pada kinerja ekspor komoditas Indonesia. Selain itu, melemahnya Yuan (mata uang China) menjadikan produk China menjadi lebih murah dipasar global, dan dapat menjadi ancaman bagi pasar domestik negara tujuan ekspor China.

    Brexit (British Exit) Sementara itu, dibelahan dunia lain, mencuat permasalahan Brexit (British Exit) yaitu keluarnya Inggris dari kerjasama regional Uni Eropa. Awal mula Brexit ketika referendum digelar pada tahun 2016 silam dengan pertanyaan, apakah Inggris tetap menjadi anggota Uni Eropa atau mundur ?.

    Dan hasil pemungutan suara sebesar 52 persen (17,4 juta suara) setuju penarikan diri dari Uni Eropa serta sisanya 48 persen (16,1 juta suara) menginginkan tetap di Uni Eropa. Sehingga berdasarkan kesepakatan, pada tanggal 29 Maret 2019 jam 23.00 Inggris resmi mundur dari Uni Eropa.

    Tentunya keputusan Brexit ini membawa pengaruh pada bidang Migrasi, Ekonomi dan Pendidikan. Banyaknya pekerja yang berasal dari Eropa akan meninggalkan Inggris, menurunnya tingkat pendapatan per kapita Inggris serta kekhawatiran akan hilangnya pendanaan penelitian bagi pendidikan tinggi di Inggris.

    Tak hanya itu ketidakpastian Brexit membawa dampak yang kian meluas baik bagi Inggris sendiri maupun bagi negara di Uni Eropa. Sehingga Brexit menjadi sorotan dunia karena perekonomian global akan terpengaruh juga. Terutama bagi negara-negara yang memiliki hubungan perdagangan utama.

    Seperti Kamboja yang mengirimkan 7,7 persen dari ekspornya ke Inggris sehingga bisa menyebabkan 1,08 persen PDB riil Kamboja turun dan konsumsi rumah tangga turun 1,4 persen.

    Lalu bagi Indonesia sendiri tidak akan berdampak signifikan dan hanya bersifat sementara atau jangka pendek saja. seperti dikutip dari Katadata, BI memandang Brexit berdampak terbatas pada perekonomian domestik, baik di pasar keuangan maupun kegiatan perdagangan dan investasi.

    Mengingat perundingan Inggris dan Uni Eropa yang masih bergulir.
    Bagaimana ekonomi Indonesia saat ini ?

    Pasang surut ekonomi global saat ini memang membawa dampak bagi perekonomian Indonesia. Namun hal ini tak serta merta membuat ekonomi Indonesia melemah begitu saja. Integrasi yang dilakukan pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam menjaga stabilitas system keuangan Indonesia memang sangat diperlukan.

    “Jadi Indonesia harus tetap mampu untuk menjaga momentum untuk pendorong ekonomi, kita juga akan tetap menjaga agar ekspor meningkat. Kalau untuk impor kita bisa menahan dengan kebijakan B20, maka dari sisi eksternal balance negatifnya jadi lebih kecil,” jelas Sri Mulyani, dikutip dari DetikFinance, Selasa (12/03/2019).


    Sri Mulyani menambahkan, dengan demikian pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap ditingkatkan. Namun kondisi ekonomi Indonesia kuartal I tahun ini cukup baik jika dilihat dari indikator indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi yang rendah, ini mencerminkan harga cukup stabil, konsumsi tetap terjaga di kisaran 5 %. Hal ini membuat momentum pertumbuhan diprediksi bisa di atas 5%. (red)


    Narsumber/Penulis : Febita Agustina Ndruru



     
    Berita Lainnya :
  • Febita Agustina Ndruru : Pelayaran Indonesia di Tengah Pasang Surut Ekonomi Dunia
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
     
    Galeri Foto - Advertorial - Pariwara - Indeks Berita
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2017-2018 PT. HESTI TRIBUNSATU PERS, All Rights Reserved