www.tribunsatu.com
Galeri Foto - Advertorial - Pariwara - Indeks Berita
 
Ada potensi duit senilai 55 miliar euro atau hampir Rp 900 triliun dari sampah elektronik. Emas jadi
Tambang Emas di Gunung Sampah
Sabtu, 20-01-2018 - 17:51:42 WIB

TERKAIT:
 
  • Tambang Emas di Gunung Sampah
  •  

    JAKARTA, TRIBUNSATU.COM Tangan Santija, pegawai staf daur ulang PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI), dengan cekatan membuka baut-baut pada penutup bagian samping central processing unit (CPU) bekas memakai bor obeng di atas meja kerjanya. Lempengan aluminium itu segera berpindah ke kontainer plastik besar bertulis ‘scrap metal’. Begitu juga dengan baut-baut kecil masuk dalam boks plastik dengan ukuran lebih kecil.

    Dengan sigap dia memotong semua kabel. Setelah itu, giliran pendingin, kartu-kartu memori, dan komponen-komponen lain yang menancap pada papan induk yang dicabut. "Terakhir melepas power supply," ujar Santija seraya mencabut baut terakhir yang masih menempel. "Paling sulit ya melepas baut-bautnya yang tersembunyi." Tak lebih dari lima menit, semua komponen dalam CPU utuh sudah tercerai-berai dalam kontainer-kontainer yang berbeda.

    Selain belasan CPU bekas yang masih menumpuk di Dismantling Room PT PPLI itu, terdapat ponsel-ponsel rusak sekitar separuh kontainer plastik berukuran besar. "Semuanya tunggu giliran untuk dibongkar," kata Public Relations Manager PT PPLI Arum Tri Pusposari. "Masih dikerjakan manual, belum otomatisasi dengan mesin."

    Perlakuan terhadap ponsel bekas tak jauh berbeda. Ponsel dibongkar secara manual. Baterai tak dapat digunakan lagi, jadi harus dibuang. Namun, sebelum itu, komponen tersebut harus mendapat perlakuan khusus dengan direndam dalam cairan tertentu selama 3-5 hari untuk menghilangkan muatan listriknya. "Diiris menjadi dua bagian, dicampur pada adukan semen dan dibentuk menjadi seperti batako," kata Arum. Baterai-baterai ini kemudian dibuang ke lahan timbus atau landfill.

    Sedangkan bagian plastik dari ponsel-ponsel dikumpulkan, kemudian dihancurkan memakai sebuah alat bernama granulator. Hasil cacahan nantinya keluar dalam bentuk bijih-bijih plastik. "Bijih plastik ini kita jual ke pihak ketiga untuk daur ulang," ujar Arum.

    Di Jepang ada perusahaan yang dalam satu tahun bisa mendapat 1 ton emas dari limbah elektronik.”
    Sayid Muhadhar, Direktur Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 dan Non-B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

    Komponen terakhir yang paling berharga, kata Arum, adalah papan sirkuit atau PCB. Papan sirkuit ini rencananya dikirim ke perusahaan induk PT PPLI di Jepang, yakni Dowa Eco System Co Ltd, untuk diolah. "Cuma, karena jumlahnya masih sedikit, PCB disimpan dulu supaya ongkos pengiriman ke Jepang bisa efisien," katanya.

    Dowa Eco System Co Ltd, ujar Direktur SHEQ dan Operasional PT PPLI Syarif Hidayat, punya pengalaman panjang dalam pengelolaan lingkungan dan daur ulang. Dowa memiliki teknologi untuk mengolah sampah-sampah elektronik hingga bisa memilah logam-logam berharga, seperti emas, perak, timah, dan tembaga. "Dalam PCB ponsel, komputer, dan televisi, terdapat kandungan logam berharga," ujar Syarif. Dari 330 ponsel saja, Dowa bisa mendapatkan 10 gram emas.

    Studi United Nations University (UNU) dalam The Global E-waste Monitor 2017 bahkan menyebut, selain logam berharga seperti emas, limbah elektronik mengandung platinum dan paladium. Dari 44,7 juta ton sampah elektronik yang dihasilkan dari seluruh dunia, mereka menaksir ada material logam berharga dan lainnya senilai 55 miliar euro atau hampir Rp 900 triliun, hampir separuh dari anggaran tahunan pemerintah Indonesia. Tentu saja duit sebesar itu hanya bisa didapat jika cara pengelolaan limbah tersebut sesuai dengan prosedur.

    Potensi tersebutlah yang, menurut Direktur Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 dan Non-B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sayid Muhadhar, tak termanfaatkan dan digarap dengan baik di Indonesia. Papan sirkuit yang diambil dari barang elektronik bekas justru diekspor, terutama ke Singapura dan Jepang. Pada 2017 saja, kata Sayid, ada sekitar 2.000 ton papan sirkuit yang dikirim ke dua negara tersebut. "Kalau logamnya diestimasi 70 persen, berarti ada sekitar 1.400 ton logam yang diekspor dengan harga limbah yang murah," ujar Sayid.

    Negara jiran Malaysia, kata Sayid, punya kebijakan berbeda terkait limbah elektronik. Ada aturan yang melarang ekspor sampah elektronik sehingga mendorong sedapat mungkin pengolahan daur ulangnya dilakukan di dalam negeri. "Di Indonesia, ekspor itu pilihan bebas," ujar Sayid. "Lama-lama kita keenakan ekspor ketimbang mengolah sendiri."

    Padahal, kata Sayid, industri pengolahan limbah elektronik untuk mendapatkan logam-logam berharga tersebut sebenarnya tak membutuhkan teknologi paling canggih. "Prinsipnya hanya melebur metal yang sudah ada. Dulu tak pernah terpikir. Di Jepang ada perusahaan yang dalam satu tahun bisa mendapat 1 ton emas dari limbah elektronik. Luar biasa itu," katanya.

    Industri tersebut pun bisa menjadi bisnis yang menjanjikan pada masa depan. Populasi Indonesia yang besar sangat potensial untuk pasar dari berbagai peralatan elektronik, terutama ponsel cerdas, komputer, dan sejenisnya. Penelitian UNU pun menunjukkan dari tahun ke tahun ada peningkatan volume sampah elektronik yang dihasilkan di Indonesia.

    Jika aturan teknis untuk sistem pengelolaan limbah elektronik sudah berjalan, kata Sayid, perusahaan-perusahaan negara didorong untuk berinvestasi di bidang industri pengolahan sampah elektronik. "Kita menyebutnya urban mining, yang sangat sayang jika dibuang begitu saja. Jadi kita sedang mendorong untuk menjadi sumber daya baru untuk Indonesia."

    Salah satu perusahaan yang sedang bersemangat ‘menambang’ emas dari gunung sampah elektronik adalah Mitsubishi Materials. Tahun lalu anak usaha konglomerasi Mitsubishi ini menyuntikkan investasi lebih dari US$ 100 juta atau lebih dari Rp 1,3 triliun untuk menambah kapasitas pabrik-pabrik daur ulang sampah elektroniknya. Di kota pelabuhan Mordijk, Belanda, Mitsubishi membangun pabrik baru untuk mengolah sampah elektronik dari negara-negara Eropa.

    Emas, menurut Lenny Koh, peneliti di Advanced Resource Efficiency Centre, Universitas Sheffield, Inggris, merupakan material yang jadi sumber duit paling besar dari timbunan sampah elektronik. Disusul tembaga, paladium, plastik, dan perak. Bahkan Dell, raksasa teknologi dari Amerika, bekerja sama dengan beberapa pihak, membuat perhiasan emas yang sumber materialnya dari limbah elektronik. “Ini tak pernah dilakukan sebelumnya,” ujar Nikki Reed, pendiri Bayou With Love, salah satu mitra Dell, dikutip Fast Company, beberapa hari lalu. (tempo)



     
    Berita Lainnya :
  • Tambang Emas di Gunung Sampah
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
     
    Galeri Foto - Advertorial - Pariwara - Indeks Berita
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2017-2018 PT. HESTI TRIBUNSATU PERS, All Rights Reserved