www.tribunsatu.com
Galeri Foto - Advertorial - Pariwara - Indeks Berita
 
Pelaksanaan Pilkades 2019 Di Desa Hilimagari Kecamatan Toma Kabupaten Nias Selatan Menuai Kecurangan Fatal
Kamis, 12-12-2019 - 12:53:29 WIB
TERKAIT:
 
  • Pelaksanaan Pilkades 2019 Di Desa Hilimagari Kecamatan Toma Kabupaten Nias Selatan Menuai Kecurangan Fatal
  •  

    Nias Selatan, Tribunsatu.Com - Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak tertanggal 08 November 2019 di Kabupaten Nias Selatan menuai kecurangan fatal yang melanggar Peraturan Bupati (Perbup) Nias Selatan Nomor 04.12_23 Tahun 2019 Tentang Pencalonan, Pemilihan, Pengangkatan, Pelantikan Dan Pemberhentian Kepala Desa Di Kabupaten Nias Selatan.

    Pasca Pilkades tertanggal 08 November 2019 yang lalu khususnya di Desa Hilimagari Kecamatan Toma terkesan penuh dengan kecurangan yang dilakukan oleh Panitia Pilkades Hilimagari Kecamatan Toma Kabupaten Nias Selatan.

    Pada kontestan yang digelar itu ratusan masyarakat melakukan keberatan sekaligus meminta klarifikasi atas keputusan panitia Pemilihan Kepala Desa Hilimagari Kecamatan Toma tentang Penetapan Calon dan Nomor Urut Calon Kepala Desa, dimana keputusan itu tidak sesuai dengan petunuk juknis berdasarkan Peraturan Bupati Nias Selatan Nomor 04.12_23 Tahun 2019 tentang Perubahan Perbup 04.12_16 Tahun 2019 tentang Petunjuk teknis Pencalonan, Pemilihan, pengangkatan, pelantikan dan pemberhentian kepala desa Kabupaten Nias Selatan.

    Demikian Calon Kepala Desa yang ditetapkan di Desa Hilimagari Kecamatan Toma menyurati Bupati Nias Selatan tertanggal 22 November 2019 meminta membatalkan calon kepala desa an. Hasikoli Nakhe dimana dalam penetapan yang dimaksud tidak sesuai dengan Peraturan Bupati Nias Selatan Nomor 04.12_23 Tahun 2019 Pasal 22 yang berbunyi sebagai berikut :
    Unsur pimpinan dan anggota Badan Permusyawaratan Desa yang mencalonkan diri dalam Pemilihan Kepala Desa harus mengundurkan diri 1 (satu) bulan sebelum mendaftar sebagai bakal calon Kepala Desa;
    Pengunduran diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis di atas kertas bermaterai 6.000, kepada Bupati melalui Camat;
    Pengunduran diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dengan persetujuan tertulis dari Bupati.

    Namun keputusan Panitia Pilkades diduga kuat telah merekayasa data dan berpihak kepada Salah satu Bakal Calon dimana Keputusan pengumuman Panitia tentang penjaringan dan Penyaringan bakal calon kepala desa Hilimagari tanggal 17 Agustus s/d 25 Agustus Tahun 2019 sementara Bakal Calon Kepala Desa Hilimagari An. Hasikoli Nakhe berasal dari Unsur Ketua dan Anggota BPD yang wajib mengundurkan diri melalui Keputusan Bupati Nias Selatan 1 (satu) bulan sebelum mendaftar.

    Panitia Pemilihan Kepala Desa Hilimagari kecamatan Toma di duga kuat telah merekayasa keputusan tanpa mempedomani Peraturan Bupati Nias Selatan Nomor 04.12_23 Tahun 2019 tentang Perubahan Perbup 04.12_16 Tahun 2019 sementara SK Bupati Nias Selatan dengan Nomor : 12.07_224 Tahun 2019 tertanggal 29 Agustus 2019 tentang Penetapan dan pemberhentian Anggota BPD Hilimagari Kecamatan Toma Kabupaten Nias Selatan

    Kepada Pjs. Kepala Desa Hilimagari Kecamatam Toma "Aliran Zebua" saat dikonfirmasi terkait pilkades itu menjelaskan dan terkesan Kecewa dengan Panitia Pilkades.

    "Keputusan Panitia Pilkades tentang Penetapan Pemenang Calon Kepala Desa Hilimagari ironisnya main Hakim sendiri tanpa mempedomani juknis dimana surat edaran Setda Nias Selatan tertanggal 14 November 2019 yang tertuju kepada Camat dan Panitia Pilkades tentang penerapan calon kepala desa itupun dalam bentuk fasilitasi namun Pihak Panitia Pilkades Hilimagari telah melakukan penetapan dengan Surat Keptusan Nomor : 142 / 11 / 2019 yang tertanggal 08 November 2019 yang ditanda tangani oleh ketua an. Baharudi Zamili dan di stempel dan undangan Panitia dalam menanda tanganin berita acara tertanggal 14 November 2019.

    Jadi keputusan yang dihasilkan itu sangguh sangat mencederai pesta demokrasi di NKRI ini, dimana suara calon nomor urut 2 An. Cikepen Sembiring sebanyak 99 dan nomor urut 4 an. Hasikoli Nakhe juga 99 suara dan bahkan panitia dengan mudah mengambil sutu keputusan dengan memenangkan calon nomor urut 4 sementara tidak melalui juknis perbup yang tertera bahwa penetapan yang dimaksud harus didasari dengan bobot penilaian dari dusun mana yang antusiasnya tinggi memilih. Dan bahkan daftar pemilih saja tidak ada atau tidak dikasi panitia pada saat memilih.

    Anehnya lagi ketika Salah seorang calon dan panitia memaksa warga desa Pangkalan Lesung menolak untuk dimasukkan di Daftar Pemilih Hilimagari namun tetap dimasukkan dan dipaksa untuk memilih Nomor urut 4 an. Hasikoli Nakhe sehingga menghasilkan hasil suara yang sama yaitu 99 suara antara calon nomor urut 2 dan 4, dan itu dibuktikan dengan surat pernyataan bersangkutan atas nama Takdir Daya diatas meterai enam ribu (6000), " kesalnya.

    Dan saya dengar bahwa hal ini semua telah disurati secara tertulis baik dari tingkat desa, kecamatan dan kabupaten oleh oknum yang merasa dirugikan dan bahkan akan dilaporkan ke PTUN untuk ditindak lanjuti berdasarkan regulasi dan aturan yang berlaku.

    Kepada kadis DPMD Kabupaten Nias Selatan saat dikonfirmasi.
    "Benar kasus ini kita sudah tunda bahkan yang bersangkutan kita tidak undang dalam pembekalan.
    Dan ini hanya khusus untuk Desa Hilimagari Kecamatan Toma. Selasa 12/12/2019.

    Sumber Berita
    (Sergaponline. Com)



     
    Berita Lainnya :
  • Pelaksanaan Pilkades 2019 Di Desa Hilimagari Kecamatan Toma Kabupaten Nias Selatan Menuai Kecurangan Fatal
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
     
    Galeri Foto - Advertorial - Pariwara - Indeks Berita
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2017-2018 PT. HESTI TRIBUNSATU PERS, All Rights Reserved